Selasa, 20 Okt 2026
dark_mode

Ketika Guru Tak Lagi Aman Menegur

  • account_circle webtable
  • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
  • print Cetak

Oleh Taufiq Rahman, SH, SSos

Ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam cara kita memperlakukan guru.

TERJADI di sebuah sekolah dasar sederhana di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, seorang guru honorer bernama Tri Wulansari kini harus berhadapan dengan proses hukum. Bukan karena kejahatan besar, bukan pula karena niat mencederai. Ia dipersoalkan karena sebuah teguran disiplin yang berujung laporan.

Peristiwa ini mungkin terlihat kecil. Namun dampaknya besar. Ia menyentuh urat nadi pendidikan dan mengguncang rasa aman para pendidik di ruang kelas.

Tri Wulansari berusia 34 tahun. Ia datang paling pagi dan pulang paling sore. Dengan gaji yang jauh dari kata layak, ia tetap mengajar dengan dedikasi. Ia mengajarkan bukan hanya pelajaran, tetapi juga sikap dan tata krama. Ketika ia meminta murid-muridnya masuk sekolah dengan rambut rapi dan tidak disemir, itu bukan soal penampilan. Itu soal disiplin dan pembiasaan nilai.

NAMUN hari pertama masuk sekolah justru berubah menjadi hari yang pahit. Teguran terhadap murid yang melanggar, disertai emosi spontan dalam situasi kelas, membawa Tri ke jalur hukum. Tanpa luka. Tanpa darah. Tanpa niat jahat. Tetapi cukup untuk mengubah status seorang guru menjadi tersangka.

Di sinilah publik patut berhenti sejenak dan bertanya: ke mana arah pendidikan kita sedang melangkah?

TIDAK ada yang membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun. Tetapi pendidikan juga tidak bisa hidup dalam ruang ketakutan. Guru bukan robot kurikulum. Mereka manusia yang bekerja dengan nurani, emosi, dan tanggung jawab moral. Ketika setiap teguran berpotensi dilaporkan, ketika setiap upaya mendisiplinkan bisa berujung kriminalisasi, maka yang runtuh bukan hanya wibawa guru—melainkan fungsi pendidikan itu sendiri.

Kasus Tri Wulansari adalah simbol nasib guru honorer di negeri ini: upah rendah, perlindungan lemah, dan beban moral tinggi. Mereka diminta membentuk karakter generasi muda, tetapi tidak diberi ruang aman untuk menjalankan peran itu. Ironisnya, ketika masalah muncul, merekalah yang paling cepat disalahkan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencampuri proses hukum. Hukum tetap harus berjalan. Namun keadilan tidak boleh kering dari konteks. Pendidikan adalah wilayah khusus yang menuntut pendekatan khusus—lebih mengedepankan pembinaan, dialog, dan pemulihan daripada penghukuman.

Jika guru tak lagi berani menegur,
jika disiplin dianggap pelanggaran,
jika ruang kelas berubah menjadi ladang ketakutan, lalu siapa yang akan membentuk karakter anak-anak kita?

Ini bukan soal rambut.
Ini soal martabat guru.
Ini soal masa depan pendidikan.

Tri Wulansari mungkin hanya satu nama. Tetapi di baliknya, ada ribuan guru kecil di pelosok negeri yang hari ini mengajar dengan rasa cemas. Mereka menunggu satu hal sederhana dari negara dan masyarakat: perlindungan, keadilan, dan penghargaan atas niat baik.

Pendidikan yang sehat lahir dari ruang kelas yang manusiawi. Dan guru yang dihormati adalah fondasi utama bangsa yang beradab. (/*/)

Johar Baru, Rabu 28 Januari 2026

Penulis adalah Wartawan Senior saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Media Independen Online Indonesia (MIO Indonesia)

  • Penulis: webtable

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Narik Sukmo” Tarian Mistis yang Menjerat Jiwa!

    “Narik Sukmo” Tarian Mistis yang Menjerat Jiwa!

    • calendar_month Minggu, 6 Jul 2025
    • 0Komentar

    Penulis: AYS Prayogie  Layar lebar Indonesia kembali diwarnai dengan film horor yang tidak sekadar mengandalkan efek kejut, namun juga menggali kekayaan mitologi lokal. “Narik Sukmo”, film yang diangkat dari novel karya Dewie Yulliantika Sofia, telah tayang serentak di jaringan bioskop Tanah Air mulai Kamis, 3 Juli 2025. HITVBERITA.COM | Balikpapan – Film produksi kolaborasi Mesari […]

  • Diamankan Polisi Dugaan Kasus Penganiayaan, Kades Legoksari Purwakarta Terancam 5 Tahun Penjara!

    Diamankan Polisi Dugaan Kasus Penganiayaan, Kades Legoksari Purwakarta Terancam 5 Tahun Penjara!

    • calendar_month Selasa, 3 Des 2024
    • 0Komentar

    Satreskrim Polres Purwakarta, Polda Jawa Barat mengamankan Cecep Mulyana alias Hamim (52) dan anak kandungnya bernama AM (22) pada hari Kamis 21 November 2024. Penahanan terhadap keduanya karena mereka terlibat pada kasus dugaan penganiayaan, yang terjadi pada 28 Oktober 2024 lalu. (Dok/Foto/Raffa)

  • Purwakarta Pilot Project Digitalisasi Pengadaan Barang dan Jasa Desa

    Purwakarta Pilot Project Digitalisasi Pengadaan Barang dan Jasa Desa

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • 0Komentar

    Penulis: Raffa Christ Manalu Kabupaten Purwakarta kini menjadi pionir dalam transformasi pengadaan barang dan jasa di tingkat desa. Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Dr. H. Agung Suriatmadja, M.Kes, mewakili Bupati Purwakarta, secara resmi membuka “Kick Off Implementasi Digitalisasi Pengadaan Barang dan Jasa Desa melalui BaleDesa West Java Digital Marketplace (WJDM)”. HITVBERITA.COM | Purwakarta […]

  • Aliansi Nissan-Mitsubishi Luncurkan Livina Versi Mungil

    Aliansi Nissan-Mitsubishi Luncurkan Livina Versi Mungil

    • calendar_month Sabtu, 16 Mar 2019
    • 0Komentar

    Nissan meluncurkan Nissan Livina berbasis Xpander beberapa waktu lalu di Indonesia. Di Jepang, aliansi Nissan-Mitsubishi meluncurkan empat mobil jenis Kei car baru. Beberapa kendaraan di antaranya: Nissan Dayz, Nissan Dayz Highway Star, Mitsubishi eK Wagon dan Mitsubishi eK X. Bentuknya sangat mirip dengan Livina dan Xpander. Nah, produksi mobil mini ini, ditangani oleh perusahaan patungan, […]

  • AKBP Dies Ferra Jadi Kapolres Perempuan Pertama di Pekalongan Kota

    AKBP Dies Ferra Jadi Kapolres Perempuan Pertama di Pekalongan Kota

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • 0Komentar

    AKBP Dies Ferra Ningtias resmi menjabat Kapolres Pekalongan Kota setelah menjalani serah terima jabatan yang dipimpin Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Ribut Hari Wibowo di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Rabu (29/7/2026). PEKALONGAN KOTA | HITV – Perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2005 itu menggantikan AKBP Riki Yariandi yang mendapat penugasan baru sebagai Kapolres Lumajang, Polda […]

expand_less