Maulid di Al-Muhajirin: Ketika Pesan Keteladanan Rasulullah Bertemu Agenda Kamtibmas
- account_circle Raffa Christ Manalu
- calendar_month 56 menit yang lalu
- print Cetak

Maulid Nabi di Ponpes Al-Muhajirin, Jumat (18/9/2026), dihadiri Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam, Wakil Bupati Abang Ijo Hapidin, dan Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah. (Dok/Foto/Raffa)
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Kabupaten Purwakarta, Jumat (18/9/2026), tidak sekadar menjadi agenda keagamaan.
PURWAKARTA, HITV — Di tengah hadirnya unsur kepolisian, pemerintah daerah, tokoh agama, dan pengelola lembaga pendidikan, forum tersebut sekaligus menjadi ruang memperkuat komunikasi antara aparat dan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu dihadiri Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam atas undangan Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin. Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hapidin dan Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah turut hadir.
Rangkaian acara diisi Dzikir Hadlroh Azmiyah dan Tabligh Akbar bersama Maulana Syaikh Alla Muhammad Musthafa Na’imah Asy-Syafii Al-Azhari.
Namun, di balik seremoni keagamaan tersebut, terdapat pesan yang lebih luas: bagaimana keteladanan Rasulullah diterjemahkan ke dalam relasi sosial dan upaya menjaga ketertiban masyarakat.
Kapolres Purwakarta, melalui Kasi Humas IPTU Tini Yutini, menyebut kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi dapat menjadi ruang memperkuat persatuan sekaligus membangun kedekatan antara kepolisian dan masyarakat.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk mengingat kembali keteladanan Rasulullah dalam membangun kehidupan yang penuh kasih sayang, toleransi dan kepedulian,” kata Tini.
Menurut kepolisian, pendekatan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak semata-mata mengandalkan tindakan kepolisian. Silaturahmi dengan ulama, tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat dinilai menjadi bagian dari strategi membangun suasana sosial yang kondusif.
Pernyataan tersebut menempatkan pesan Kamtibmas dalam konteks yang lebih luas. Keamanan publik tidak hanya berkaitan dengan penanganan gangguan setelah terjadi, tetapi juga bagaimana komunikasi dan kepercayaan dibangun sebelum persoalan muncul.
Dalam konteks Purwakarta, perjumpaan aparat kepolisian dengan lingkungan pesantren memiliki arti tersendiri. Pesantren merupakan salah satu ruang sosial yang memiliki kedekatan kuat dengan masyarakat. Karena itu, komunikasi yang terbangun di ruang keagamaan dapat menjadi salah satu jalur untuk memperkuat penyampaian pesan-pesan persatuan dan kepedulian sosial.
Meski demikian, sinergi antara aparat, ulama dan masyarakat pada akhirnya tidak cukup berhenti pada seremoni dan pernyataan normatif. Ukurannya adalah bagaimana nilai keteladanan, toleransi, kepedulian dan persaudaraan tersebut diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Maulid Nabi di Al-Muhajirin pun meninggalkan pesan sederhana sekaligus penting: menjaga keamanan bukan hanya perkara penegakan hukum, tetapi juga membangun hubungan sosial yang memungkinkan masyarakat dan aparat saling percaya.
Bagi kepolisian, ruang silaturahmi dengan ulama dan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga Kamtibmas. Bagi masyarakat, pesan tersebut akan memiliki makna lebih kuat apabila diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan berhenti sebagai pesan dalam forum keagamaan. (*/)
Sumber: HITV Jabar
Penulis: Raffa Christ Manalu
Editor: AYS
- Penulis: Raffa Christ Manalu





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.