Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswani, Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Purna
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- visibility 142
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar ilustrasi: Background suasana perang pada Foto Mayjen TNI Asep Kuswani saat masih aktif dinas di ketentaraan. (Sumber: Asep (HC) Arie Barajati)
Bagi Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswani, SH, MSi, (Han), pengabdian kepada negara bukanlah sekadar masa tugas yang dibatasi oleh usia atau kepangkatan. Ia adalah pilihan hidup—yang dimulai sejak pertama kali mengenakan seragam hijau TNI dan terus berlanjut hingga hari ini, meski status dinas telah berakhir.
PERJALANAN panjang itu membentuk Asep Kuswani sebagai prajurit, pemimpin, pendidik, sekaligus tokoh kebangsaan yang konsisten memelihara nilai kesetiaan, kemanusiaan, dan kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ditempa Medan Tugas
KARIER militernya bermula dari penugasan-penugasan awal di berbagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Daerah konflik, medan alam yang berat, serta dinamika sosial yang kompleks menjadi ruang pembelajaran paling nyata bagi seorang prajurit muda.
Di medan tugas, Asep Kuswani memahami bahwa tanggung jawab prajurit TNI tidak berhenti pada menjalankan perintah. Lebih dari itu, ia memikul amanah untuk menjaga keselamatan rakyat dan mempertahankan martabat negara. Prinsip kesatriaan dan kepatuhan pada konstitusi menjadi pegangan utama dalam setiap langkah pengabdian.
Baginya, kehadiran TNI di tengah masyarakat harus membawa rasa aman dan harapan—bukan ketakutan.
Kemanunggalan TNI dan Rakyat
KEPERCAYAAN negara kemudian mengantarkan Asep Kuswani pada jabatan strategis sebagai Komandan Teritorial. Di fase ini, pemahamannya tentang kekuatan pertahanan semakin utuh. Senjata dan strategi, menurutnya, hanyalah satu sisi. Sisi lainnya—yang tak kalah penting—adalah kemanunggalan dengan rakyat.
Ia mendorong prajurit untuk hadir secara nyata di tengah masyarakat: mendengar keluhan, membantu pembangunan infrastruktur dasar, serta menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial. Pendekatan teritorial yang humanis ia yakini sebagai kunci stabilitas keamanan jangka panjang.
Rakyat, dalam pandangannya, bukan sekadar objek perlindungan. Mereka adalah mitra sejati dalam menjaga kedamaian wilayah dan keutuhan bangsa.
Senyum masyarakat yang kembali tumbuh setelah kehidupan mereka membaik menjadi sumber kebanggaan tersendiri—sebuah pengingat bahwa pengabdian sejati selalu berakar pada kemanusiaan.
Membentuk Pemimpin Masa Depan
BABAK penting lain dalam perjalanan Asep Kuswani adalah ketika ia memasuki dunia pendidikan militer. Menjabat sebagai Patun hingga Wadirbindikjar Seskoad, ia mengabdikan diri untuk membentuk Perwira Menengah TNI Angkatan Darat yang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan.
Di lingkungan akademik Seskoad, Asep Kuswani menanamkan nilai-nilai fundamental kepemimpinan: kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan dedikasi kepada bangsa. Ia percaya, kecakapan strategi tanpa karakter hanya akan melahirkan pemimpin yang rapuh.
Melihat para peserta didiknya kemudian menduduki berbagai posisi penting di tubuh TNI dan mampu membawa perubahan positif menjadi kepuasan batin yang tak ternilai. Di sanalah, menurutnya, estafet pengabdian diteruskan.
Purnabakti yang Tetap Bermakna
MEMASUKI masa purnawirawan, Asep Kuswani tidak pernah memaknai purnabakti sebagai titik akhir. Ia justru melihatnya sebagai ruang pengabdian baru—lebih luas dan lintas sektor.
Dengan tubuh dan jiwa yang masih tegar, ia terus aktif menyumbangkan gagasan kebangsaan, berbagi pengalaman kepada generasi muda, serta mendukung kemajuan TNI dan bangsa melalui berbagai peran strategis di masyarakat sipil.
Saat ini, Asep Kuswani dikenal sebagai Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina Paguyuban Asep Dunia (PAD), Dewan Pembina MIO Indonesia, sekaligus pendiri media AsepNews.id. Melalui ruang-ruang tersebut, ia tetap merawat semangat kebangsaan dan memperkuat literasi publik.
Bangga Menjadi Purnawirawan TNI
BAGI Asep Kuswani, status purnawirawan bukanlah label akhir, melainkan identitas kehormatan. Nilai-nilai keprajuritan—disiplin, loyalitas, dan pengabdian—tetap hidup dalam setiap langkahnya.
Ia meyakini bahwa selama napas masih berhembus, pengabdian kepada bangsa tidak pernah benar-benar selesai. Dengan keyakinan itu pula, ia menegaskan satu sikap hidup yang sederhana namun kuat:
Bangga menjadi purnawirawan TNI, karena pengabdian kepada Ibu Pertiwi sejatinya tidak pernah mengenal kata purna.
(/*/*/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: HITV Jabar
- Penulis: AYS Prayogie
