Menjaga Ingatan, Merawat Kebersamaan di Usia 122 Tahun Desa Kecila
- account_circle Catur Indra
- calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
- print Cetak

Kepala Desa Kecila, H. Slamet Subur bersama warga saat menaburkan bunga di makam Achmad Ghozali. (Dok/Foto/Catur)
Langit Minggu siang itu tampak teduh di Desa Kecila. Waktu berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi ingatan untuk kembali menapaki jejak-jejak lama yang tak selalu tertulis, tapi hidup dalam cerita dan doa. Di usia ke-122, desa ini tidak sekadar merayakan hari jadi—ia sedang mengingat dirinya sendiri.
BANYUMAS, HITV —- Di Makam Kubang dan Tempat Pemakaman Umum Desa Kecila, langkah-langkah warga terdengar ringan namun khidmat. Mereka datang tidak dengan gegap gempita, melainkan dengan kesadaran sederhana: ada yang pernah memulai semua ini, jauh sebelum mereka lahir, sebelum jalan-jalan desa terbentuk, sebelum rumah-rumah berdiri rapat seperti sekarang.
Kepala Desa Kecila, H. Slamet Subur, berjalan di antara warga. Tak ada jarak yang terasa mencolok. Di hadapan makam Achmad Ghozali, ia menaburkan bunga—sebuah gestur yang tampak sederhana, tetapi sarat makna. Bunga-bunga itu jatuh perlahan, seperti waktu yang tak pernah benar-benar pergi, hanya berubah bentuk.
Nama-nama lama disebut kembali dalam doa. Tahlil menggema, dipimpin Azis Subarkah, menyatukan suara dalam ritme yang akrab. Di sana, masa lalu dan masa kini bertemu, bukan dalam perdebatan, melainkan dalam pengakuan diam bahwa kehidupan hari ini adalah kelanjutan dari pengorbanan yang tak selalu dikenang.
Ziarah berlanjut ke makam Udajiwa, kepala desa pertama. Sosok yang mungkin kini lebih sering disebut daripada benar-benar dikenal. Namun justru di situlah maknanya: ingatan kolektif tidak selalu membutuhkan detail, cukup kesadaran bahwa ada fondasi yang pernah diletakkan dengan kesungguhan.
Seorang perwakilan BPD, dalam sambutannya, tidak berbicara panjang. Ia hanya menyampaikan harapan yang terdengar klasik—kesejahteraan, keadilan, kemakmuran. Kata-kata yang sering diucapkan, namun tetap relevan karena belum sepenuhnya tercapai. Di desa seperti Kecila, harapan memang tidak pernah usang; ia diwariskan, seperti tradisi.
Menjelang sore, suasana berubah lebih cair. Doa-doa yang tadi khusyuk kini beralih menjadi percakapan ringan. Tumpeng dipotong, tangan-tangan saling menyodorkan makanan, dan tawa mulai terdengar di sela-sela cerita. Di sinilah kebersamaan menemukan bentuknya yang paling nyata: makan bersama, tanpa sekat.
Barangkali, inilah inti dari peringatan itu. Bukan sekadar mengenang siapa yang telah tiada, tetapi memastikan bahwa yang masih ada tetap saling terhubung. Tradisi ziarah dan doa bersama menjadi semacam jembatan—menghubungkan generasi, merawat identitas, sekaligus meneguhkan bahwa sebuah desa bukan hanya tentang wilayah, melainkan tentang ingatan yang terus dirawat.
Di usia yang telah melampaui satu abad, Desa Kecila tidak tampak terburu-buru mengejar sesuatu yang besar.
Ia justru setia menjaga yang kecil: doa, kebersamaan, dan penghormatan. Hal-hal yang sering dianggap sepele, tetapi justru itulah yang membuat sebuah komunitas tetap hidup.

Seorang perwakilan BPD, dalam sambutannya menyampaikan harapan yang terdengar klasik—kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, namun tetap relevan karena belum sepenuhnya tercapai. (Dok/Foto/Catur)
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, warga perlahan pulang. Tidak ada seremoni penutup yang megah. Hanya perasaan cukup—bahwa hari itu, mereka telah melakukan sesuatu yang penting: mengingat, bersama-sama. (\•/)
Editor: Ahdiyat
Sumber: HITV Jateng
- Penulis: Catur Indra






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.