Tangis, Pelukan, dan Harapan Baru di Ujung Pelatihan Bela Negara Purwakarta!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
- visibility 34
- print Cetak

Di bawah langit cerah Minggu siang, halaman Markas Resimen Armed 1/Sthira Yudha di Purwakarta berubah menjadi ruang perjumpaan penuh haru.
HITVBERITA.COM | PURWAKARTA– Sebanyak 39 pelajar yang mengikuti program pelatihan pendidikan karakter dan bela negara selama dua pekan, satu per satu dipeluk erat oleh orangtua mereka. Ada yang bersimpuh mencium kaki ayah dan ibu, menumpahkan tangis dalam diam, sebagai pertanda penyesalan sekaligus tekad baru.
Waktu seolah melambat saat suara komando upacara terdengar tegas di tengah terik. Para peserta berdiri tegak dalam balutan seragam loreng, mengikuti upacara penutupan yang berlangsung khidmat. Turut hadir Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menyaksikan langsung momen yang sarat emosi ini.
Namun sorotan bukan semata pada seremoni. Yang paling menyentuh adalah transformasi para peserta. Wajah-wajah yang dua pekan lalu terlihat murung, kini tampak cerah dan penuh percaya diri.
“Anak saya berubah, lebih tenang dan sopan,” tutur Yeni, salah satu orangtua, dengan mata berkaca-kaca. Ia mengenang masa-masa ketika putranya terlibat tawuran dan mulai menjauh dari rumah.
“Tadi dia cium tangan saya dan minta maaf. Saya tak kuasa menahan air mata.” ujarnya.
Program pelatihan ini bukan sekadar latihan fisik. Menurut Bupati Saepul Bahri Binzein— yang akrab disapa Om Zein— pendekatan yang digunakan menekankan pada pembentukan karakter. “Mereka belajar menulis janji untuk diri sendiri, keluarga, dan Tuhan,” ujarnya.
Para peserta memang berasal dari latar belakang yang tidak mudah—ada yang pernah terlibat perkelahian pelajar, membolos, hingga mencoba minuman keras. Pelatihan ini menjadi titik balik. “Anak-anak ini pulang membawa sesuatu yang lebih penting dari sekadar kelulusan: harapan baru,” ujar Om Zein.
Isu seputar dugaan pemaksaan dalam program ini pun dibantah. “Lihat saja pelukan orangtua dan anak-anaknya. Tak ada yang dipaksa. Semua yang ikut, atas persetujuan keluarga,” katanya.
Ke depan, pemerintah daerah berencana memperketat proses seleksi. Akan ada asesmen psikologis, surat rekomendasi dari sekolah dan orangtua sebagai syarat utama. “Tidak bisa sembarangan. Ini menyangkut masa depan anak-anak,” tandasnya.
Program ini juga akan dilanjutkan dengan sesi penyegaran dua minggu mendatang, guna memastikan perubahan perilaku tidak sekadar sesaat.
Penutupan pelatihan di Purwakarta ini bukan sekadar akhir dari sebuah program. Ia menjadi simbol, bahwa perubahan sejati mungkin dicapai jika disertai pendampingan yang konsisten dan penuh empati. (**)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar