Warga di Seluruh Indonesia Menanti Sidang Isbat, Penentuan Awal Puasa Tinggal Hitungan Jam
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 57
- print Cetak

Sidang isbat dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB dan hasilnya akan diumumkan secara resmi pada malam hari melalui konferensi pers Menteri Agama. (Dok/Foto/AYS)
Umat Islam di berbagai penjuru Tanah Air hari ini menahan napas menunggu keputusan pemerintah terkait dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah.
JAKARTA | HITV— Penantian itu akan bermuara pada sidang isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia pada Selasa (17/2/2026) sore di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta.
Terpantau sejak pagi, suasana menjelang Ramadan terasa di banyak daerah. Di kampung-kampung, masjid, hingga ruang keluarga, masyarakat menunggu satu kepastian: kapan puasa dimulai.
Sidang isbat dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB dan hasilnya akan diumumkan secara resmi pada malam hari melalui konferensi pers Menteri Agama.
Tahun ini, pemerintah kembali menggunakan pendekatan integratif antara metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan langsung bulan sabit). Pendekatan ini dipandang sebagai ikhtiar menjaga persatuan umat di tengah perbedaan metode penentuan awal bulan yang berkembang di Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa keputusan sidang isbat tidak hanya berpijak pada data ilmiah, tetapi juga pertimbangan syar’i.
“Pendekatan ini menjadi jalan tengah agar keputusan yang diambil dapat diterima luas oleh umat,” ujarnya.
Harapan masyarakat juga tertuju pada proses sidang yang melibatkan banyak unsur. Perwakilan organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Hidayatullah, hingga Persatuan Umat Islam hadir dalam forum tersebut. Selain itu, pakar falak dan astronomi dari BMKG, BRIN, Planetarium, serta jaringan observatorium daerah turut memberikan laporan.
Secara teknis, sidang isbat diawali pemaparan posisi hilal berdasarkan data hisab. Setelah itu, laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia dikumpulkan dan diverifikasi. Tahapan berikutnya adalah sidang tertutup untuk penetapan, sebelum akhirnya hasilnya diumumkan kepada publik.
Berdasarkan data hisab sementara, posisi hilal saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berada di kisaran minus 2 derajat hingga kurang dari 1 derajat, dengan sudut elongasi masih di bawah ambang kriteria visibilitas hilal MABIMS.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menyebut secara astronomis posisi tersebut belum memenuhi standar keterlihatan. “Data ini akan dikonfirmasi melalui laporan rukyat dari berbagai daerah sebelum diputuskan,” katanya.
Di tengah beredarnya berbagai prediksi kalender, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi. Dalam kalender hijriah Kementerian Agama, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, kepastian tetap menunggu hasil sidang isbat.
Jika hilal dinyatakan terlihat pada pemantauan hari ini, puasa berpotensi dimulai Rabu (18/2/2026). Sebaliknya, jika tidak teramati, awal Ramadan akan bergeser ke Kamis (19/2/2026).
Sambil menunggu pengumuman resmi, jutaan warga di seluruh Indonesia kini berada dalam satu suasana yang sama: menanti ketukan palu sidang isbat yang akan menandai dimulainya bulan suci Ramadan. (\•/)
Editor: AYS
Sumber: Kementerian Agama RI
- Penulis: AYS Prayogie
