Dr Anto Suroto Tekankan Tanggung Jawab Moral Pers dalam Pemberitaan Penegakan Hukum
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
- visibility 92
- print Cetak

Dialog Interaktif Nasional diikuti oleh jurnalis dari berbagai media dan menghadirkan sejumlah narasumber nasional antara lain, wartawan senior Bambang Harimurti, Uchok Sky Khadafi dan Dr Kun Wardana Abiyoto dan Dr Anto Suroto selaku Ketua Umum APIKI dan Dewan Pembina MIO Indonesia. (Dok/Foto/AYS/)
Ketua Umum Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) sekaligus Dewan Pembina Media Independen Online (MIO) Indonesia, Dr Anto Suroto, SE, MSc, MM, menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dan etika jurnalistik dalam setiap produk pemberitaan, terutama yang berkaitan dengan isu penegakan hukum.
JAKARTA | HITV — Penegasan tersebut disampaikan Anto saat menjadi salah satu pemateri utama dalam Dialog Interaktif Nasional bertajuk “Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo dan Masa Depan Demokrasi Jurnalis”, yang digelar di TJIKKO.KOFFEE, kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/12/2025).
Dalam pemaparannya, Anto menilai bahwa jurnalis dan organisasi pers memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman publik yang utuh dan berimbang. Ia mengingatkan agar pemberitaan tidak berhenti pada narasi permukaan, melainkan menggali akar persoalan secara menyeluruh.
“Dalam sejumlah kasus penegakan hukum, misalnya tangkapan yang disertai pemusnahan barang bukti, jurnalis perlu memahami dan menjelaskan terlebih dahulu dasar awal peristiwa tersebut. Jangan hanya memberitakan pemusnahannya saja,” kata Anto.
Menurut dia, pola pemberitaan yang parsial juga kerap muncul dalam kasus-kasus korupsi. Fokus pada satu potongan peristiwa tanpa konteks yang lengkap, lanjut Anto, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kasus korupsi pun demikian. Jangan hanya melihat satu sisi. Teman-teman jurnalis harus mampu membaca persoalan secara komprehensif agar publik memperoleh gambaran yang utuh,” ujarnya.
Dewan Pembina MIO Indonesia itu menegaskan, kebebasan pers merupakan pilar penting demokrasi, namun harus berjalan seiring dengan tanggung jawab, profesionalisme, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
“Kebebasan itu sangat penting, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman yang menyeluruh dan sikap profesional. Ini saya sampaikan sebagai masukan untuk kita semua,” ujarnya.
Ia pun berharap dialog dan diskusi semacam ini dapat menjadi ruang pembelajaran bersama bagi insan pers dan para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas pemberitaan serta memperkuat kepercayaan publik terhadap media.
“Diskusi seperti ini sangat bermanfaat. Semoga dapat terus dilakukan ke depan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pers kita,” ucap Dr Anto Suroto menutup pemaparan.
Dialog Interaktif Nasional tersebut diikuti oleh jurnalis dari berbagai media dan menghadirkan sejumlah narasumber nasional antara lain, wartawan senior Bambang Harimurti, Uchok Sky Khadafi dan Dr Kun Wardana Abiyoto.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat demokrasi, profesionalisme pers, serta etika pemberitaan di Indonesia. (/*/*/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: HITV Jakarta
- Penulis: AYS Prayogie
