Jejak Solar Ilegal di Jeti Tanjung Keruing, Ada Jaringan di Baliknya!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 9 Sep 2025
- visibility 24
- print Cetak

Aktivitas mencurigakan terekam di Jeti Tanjung Keruing, Dabo Singkep, Selasa (9/9/2025) siang, sekitar pukul 11.20 WIB, satu unit lori pengangkut solar terlihat keluar-masuk lokasi hingga tiga kali dengan kendaraan yang sama. (Foto/Tim/Hitv)
Dugaan praktik ilegal penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar kembali menyeruak di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Aktivitas mencurigakan terekam di Jeti Tanjung Keruing, Dabo Singkep, Selasa (9/9/2025) siang.
HITVBERITA.COM | Lingga — Dari pantauan Tim Investigasi HITV Sekitar pukul 11.20 WIB, terlihat satu unit lori pengangkut solar keluar-masuk lokasi hingga tiga kali dengan kendaraan yang sama. Pergerakan berulang itu menimbulkan dugaan kuat solar tersebut tidak berhenti di Lingga, melainkan dialirkan ke luar daerah.
“Sudah beberapa kali ada lori masuk ke jeti ini. Kami curiga ada yang tidak beres,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
INVESTIGASI di lapangan sehari sebelumnya, Senin (8/9/2025), menemukan setidaknya tiga unit lori pengangkut solar masuk ke kawasan serupa. Pola ini memunculkan indikasi bahwa praktik penyelundupan solar telah berlangsung terstruktur dan berulang.
Sulit dideteksi bukan berarti tidak terorganisasi. Pergerakan kendaraan pengangkut dengan ritme sama, lokasi yang relatif tersembunyi, hingga keberulangan aktivitas memberi isyarat adanya jaringan yang mengatur alur distribusi solar ilegal.
SOLAR bersubsidi sejatinya diperuntukkan bagi nelayan kecil, transportasi publik, dan usaha produktif masyarakat. Jika alur distribusinya diselewengkan, negara bukan hanya kehilangan potensi penerimaan miliaran rupiah, tetapi juga menambah penderitaan masyarakat kecil.
Bagi nelayan di Lingga, solar yang langka berarti biaya melaut semakin mahal. Kapal sulit beroperasi, sementara harga ikan di pasaran kian tidak stabil. Dalam jangka panjang, praktik ilegal ini menggerus sendi ekonomi masyarakat pesisir.
DESAKAN kepada aparat kembali menguat. Warga menilai pengawasan selama ini hanya bersifat reaktif, bukan preventif. Polres Lingga memang pernah melakukan pengamanan di SPBU Dabo Singkep. Namun, kasus di Jeti Tanjung Keruing memperlihatkan masih terbuka celah bagi peredaran ilegal.
Bukan sekali ini Lingga dikaitkan dengan praktik serupa. Pada Mei 2025, muncul dugaan manipulasi dokumen pelayaran oleh Syahbandar Dabo Singkep.
Rangkaian kasus ini menimbulkan pertanyaan kritis: mengapa praktik ilegal seolah terus berulang? Adakah “tangan-tangan besar” yang bermain di baliknya?
KASUS solar di Tanjung Keruing bukan sekadar pelanggaran distribusi energi. Ia mencerminkan rapuhnya pengawasan dan menjadi ujian bagi aparat penegak hukum.
Tanpa langkah tegas, Lingga berpotensi menjadi “zona nyaman” bagi penyelundupan BBM.
(Tim/Red)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar