DPD CMMI Sibolga-Tapteng Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Sumatera jadi Bencana Nasional
- account_circle Raffa Christ Manalu
- calendar_month Senin, 15 Des 2025
- visibility 113
- print Cetak

Sekretaris CMMI DPD Sibolga-Tapteng, Muhammad Riski Pane desak pemerintah pusat tetapkan bencana Sumatera menjadi bencana nasional. (ist)
SIBOLGA | HITV – Cendikia Muda Muslim Indonesia Dewan Pimpinan Daerah Sibolga-Tapanuli Tengah mendesak pemerintah pusat segera menetapkan bencana banjir dan longsor di Sumatera yang menghantam tiga provinsi menjadi status bencana nasional.
Bencana yang menghantam provinsi Aceh, provinsi Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi pada 25 November 2025 tersebut telah menelan korban hingga ribuan orang meninggal dunia, dan merusak infrastruktur jalan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, dan bangunan sekolah.
“Pemerintah pusat jangan egois. Segera tetapkan status bencana ini menjadi Bencana Nasional. Setiap hari masyarakat meneteskan air mata, di tambah lagi kehilangan harta benda mereka, serta masa depan yang gelap selalu muncul di benak mereka,” ungkap Riski Pane kepada hitv berita, melalui telepon selulernya, pada Minggu 14 Desember 2025.
Riski menjelaskan, bahwa bencana banjir bandang yang menimpa Sumatera telah menyebabkan korban meninggal dunia sebanyak 1.016 jiwa, korban luka-luka sebanyak 5.400 jiwa, sebanyak 212 dinyatakan hilang.
“Selain itu, sebanyak 624.670 jiwa masih tinggal di tempat pengungsian, sebanyak 157.900 unit rumah rusak, fasilitas pendidikan sebanyak 581 mengalami kerusakan, 219 fasilitas kesehatan rusak, 434 rumah ibadah, 290 gedung sekolah, dan kurang lebih 2.058 km jalan nasional serta ratusan jembatan putus terdampak bencana tersebut,” jelas Riski.
Menurutnya, saat ini para pemimpin daerah terdampak sangat kewalahan, bahkan tidak sedikit yang menyerah dan menangis pilu melihat kondisi daerah yang hancur akibat banjir bandang dan longsor di wilayah tiga provinsi tersebut. Selain itu, masyarakat hingga saat ini belum mendapat kepastian sampai kapan mereka tinggal di tempat pengungsian, dan mendapat tempat tinggal yang layak bagi para korban yang rumahnya hancur.
“Bahkan saat ini banyak warga mengalami busung lapar, demam, penyakit gatal-gatal akibat air banjir yang kotor bercampur lumpur, serta aliran listrik yang masih padam di beberapa tempat,” ujarnya.
Cendikia Muda Muslim Indonesia cabang Sibolga-Tapteng, lanjut Riski, berharap pemerintah pusat segera menetapkan bencana Sumatera menjadi bencana nasional untuk mempercepat pemulihan pascabencana yang melanda tiga provinsi di wilayah sumatera.
“Segera tetapkan bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera menjadi status bencana nasional. Tidak ada kepentingan yang lebih penting diatas kepentingan rakyat. Jangan tambahin derita rakyat, mereka sudah kesusahan,” tegasnya.
- Penulis: Raffa Christ Manalu

Saat ini belum ada komentar