Selasa, 13 Okt 2026
dark_mode

Luka di Bumi Pertiwi: Ketika Kekayaan Alam Tak Lagi Jadi Berkah

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
  • print Cetak

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswani, SH, MSi, (Han)

 

TANAH air ini tengah meringis. Bukan karena gempa bumi atau letusan gunung berapi, tetapi karena luka yang digores oleh tangan-tangan kekuasaan yang rakus. Di balik pemandangan hijau hutan tropis dan birunya samudra, Indonesia tengah menyimpan kepedihan yang dalam—dikeruk, dikuras, dan ditinggalkan menganga oleh segelintir orang yang memegang kuasa atas nama investasi dan pembangunan.

Di Kalimantan Timur, lubang-lubang bekas tambang batubara tampak seperti danau buatan. Namun di balik kejernihan air yang semu itu, tersimpan cerita pilu: anak-anak yang tenggelam saat bermain, tanah yang tak lagi subur, udara yang berat karena debu. Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), ada lebih dari 1.700 lubang tambang di provinsi itu saja, sebagian besar dibiarkan begitu saja tanpa reklamasi.

Fenomena itu bukanlah cerita tunggal. Data JATAM mencatat lebih dari 8.500 izin usaha pertambangan aktif di seluruh Indonesia, dengan sebagian besar konsesi berada di tangan korporasi besar yang punya akses dekat ke pusat kekuasaan. Dari Sumatera hingga Papua, praktik serupa berlangsung dalam skala masif: eksploitasi atas nama pertumbuhan ekonomi, yang sering kali meninggalkan kerusakan dan ketidakadilan.

Di sisi lain, laut yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke, kini juga menyimpan kegelisahan. Penangkapan ikan skala industri oleh kapal-kapal besar telah menyingkirkan nelayan tradisional dari ruang hidupnya. Sumber daya perikanan yang dahulu melimpah, kini menyusut drastis. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan penurunan tajam stok ikan di sejumlah wilayah, akibat eksploitasi yang tak terkendali.

TAK Cukup sampai di laut dan tambang, kerusakan juga menjalar ke rimba raya Indonesia. Menurut Global Forest Watch, Indonesia kehilangan lebih dari 10 juta hektare tutupan hutan primer selama dua dekade terakhir. Di balik statistik itu, ada masyarakat adat yang tercerabut dari tanah ulayatnya, budaya yang memudar, dan masa depan yang tercerai.

“Ini bukan hanya soal lingkungan,” ujar seorang warga adat di pedalaman Kalimantan, “tetapi soal kami, yang kehilangan rumah, identitas, dan harapan.”

Kerusakan alam yang masif itu berjalan seiring dengan memburuknya ketimpangan ekonomi. Laporan Oxfam Indonesia mengungkap fakta mencengangkan: empat orang terkaya di negeri ini memiliki kekayaan yang setara dengan 100 juta warga termiskin. Ketika sebagian besar rakyat berjuang memenuhi kebutuhan dasar, segelintir elit justru semakin menguatkan cengkeramannya atas tambang, lahan, dan anggaran.

DI BALIK parade pembangunan dan jargon kesejahteraan, rakyat kerap hanya jadi penonton. Program-program yang digadang-gadang di atas panggung kebijakan sering kali tak menyentuh kebutuhan nyata di akar rumput. Yang menikmati hasil kekayaan alam bukan mereka yang tinggal di sekitarnya, melainkan mereka yang memiliki koneksi, modal, dan pengaruh.

Lantas, di mana letak keadilan itu?

INDONESIA membutuhkan perubahan yang sistemik dan berani. Hukum harus tegak, bukan hanya kepada rakyat kecil, tetapi juga kepada korporasi besar dan para elite yang menyalahgunakan wewenang. Transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam mutlak diperlukan. Siapa yang mengelola tambang, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan siapa yang menanggung akibat—semua harus terang benderang.

Partisipasi publik pun harus diperkuat. Masyarakat lokal yang terdampak langsung harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Inilah inti dari keadilan ekologis: suara yang paling terdampak harus didengar paling keras.

Tak kalah penting, pendidikan lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak harus tumbuh dengan kesadaran bahwa alam bukan hanya warisan, tetapi juga titipan. Dengan begitu, keserakahan bisa dibendung oleh kesadaran, dan kekuasaan bisa dijaga oleh tanggung jawab moral.

TANAH air ini terlalu indah untuk dibiarkan luka terus-menerus. Kita tidak ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang meringis. Kita bisa pulih, jika bersatu dan bertindak. Jika para pemangku kekuasaan bersedia melihat ke bawah, dan jika rakyat terus bersuara dengan kesadaran yang terorganisir.

Mari jaga bumi pertiwi, bukan untuk segelintir orang yang rakus, tetapi untuk seluruh anak negeri. Untuk langit yang tetap biru, laut yang tetap jernih, dan hutan yang tetap rimbun. Sebab, masa depan Indonesia ada di tangan kita semua. (*/*)

Rancaekek, 17 Juni 2025
Penulis adalah Anggota Dewan Pini Sepuh / Karamaan /Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS) | Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD) | Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia | Founder portal berita AsepNews.id

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Prabowo Subianto Pastikan Penanganan Korban Kecelakaan KA dan Desak Investigasi Transparan

    Presiden Prabowo Subianto Pastikan Penanganan Korban Kecelakaan KA dan Desak Investigasi Transparan

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • 0Komentar

    Negara Hadir di Tengah Duka: Presiden Prabowo Subianto menjenguk korban kecelakaan kereta api di RSUD Chasbullah Abdulmajid, Selasa (28/4/2026) pagi. BEKASI, HITV— Kunjungan Presiden RI Ke-8 ke RSUD milik Pemkot Bekasi itu menjadi penegasan kehadiran negara di tengah duka yang masih menyelimuti para korban dan keluarga pasca-insiden tabrakan Kereta Api Jarak Jauh dan KRL Commuter […]

  • Kejari Belitung Selidiki Dugaan Korupsi Pada Proyek Pembangunan Lapangan Futsal di Desa Batu Itam!

    Kejari Belitung Selidiki Dugaan Korupsi Pada Proyek Pembangunan Lapangan Futsal di Desa Batu Itam!

    • calendar_month Jumat, 4 Apr 2025
    • 2Komentar

    Kejaksaan Negeri Belitung tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek pembangunan lapangan futsal yang berlokasi di Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Proyek yang menggunakan anggaran Dana Desa sebesar Rp 693.132.000 ini dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2019 dengan sistem swakelola. HITVBERITA.COM | Belitung- Proyek pembangunan lapangan futsal ini melibatkan Tim Pelaksana […]

  • Jumat Berkah, Polres Karimun Salurkan Bansos ke Panti Asuhan Hidayatullah

    Jumat Berkah, Polres Karimun Salurkan Bansos ke Panti Asuhan Hidayatullah

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • 1Komentar

    Penulis: Saipul Polres Karimun melaksanakan kegiatan Jumat Berkah berupa pemberian bantuan sosial (Bansos)  kepada Panti Asuhan Hidayatullah yang berlokasi di Sei. Memal, Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat, Jumat (7/11/2025). HITVBERITA.COM | Karimun – Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB,  dipimpin Iptu Bambang TS, SH, didampingi Bripka Sugiantoro, Bripda Ronal Marpaung, Penda Suranto, S.H., dan ASN Slamet. […]

  • Hilirisasi Komoditas Perkebunan Mampu Meningkatkan Penerimaan Devisa Negara

    Hilirisasi Komoditas Perkebunan Mampu Meningkatkan Penerimaan Devisa Negara

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • 0Komentar

    Penulis: Syamsu Marlin  Penguatan Hilirisasi komoditas perkebunan nilai jualnya tinggi yang mampu meningkatkan penerimaan devisa negara. Sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, cengkeh, kelapa, mete, kakao, pala, sawit, lada, dan komoditas ekspor lainnya menjadi fokus hilirisasi. HITVBERITA.COM | Jakarta – Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan yang […]

  • Pemprov Jabar Tegaskan Gedung Sate Hanya untuk Kegiatan Pemerintahan

    Pemprov Jabar Tegaskan Gedung Sate Hanya untuk Kegiatan Pemerintahan

    • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
    • 3Komentar

    Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan Surat Edaran (SE) yang menegaskan pemanfaatan Gedung Sate hanya untuk kepentingan resmi pemerintahan. Paska diterbitkannya ketentuan kebijakan itu, Gedung berstatus cagar budaya itupun, selanjutnya tidak boleh lagi digunakan untuk kegiatan non-pemerintah. HITVBERITA.COM | Bandung— Diketahui bahwa SE Nomor 37/KB.03.03.01/UM ditandatangani Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, pada 10 April 2025. […]

expand_less